03 Maret 2009

AKROBAT POLITIK, SIAPA UNTUNG

Mendekati pelaksanaan Pemilu (Legislatif, terlebih nanti saat Pilpres) masyarakat dipertontontan akrobat politik para politisi di negeri ini. Tontonan paling menarik tentu saja manuver "akrobat" partai-partai besar semacam Golkar, PDIP, Demokrat dan PKS walau tak berarti yang dilakukan partai berkelas semenjana (sedang) tak menyita perhatian. Lihat apa yang sampai kini (media Maret 2009) terjadi dengan empat partai besar; Golkar, PDIP, Demokrat dan PKS.

PARTAI GOLKAR

Aneh, tapi inilah realitas yang dihadapi Partai yang lahir dari rahim Rezim Orde Baru ini. Sebagai partai besar dan berpredikat pemenang Pemilu 2004, lazimnya mereka tak kesulitan mendapatkan figur yang akan dimunculkan sebagai kandidat Presiden dan akan dimajukan dalam pertarungan Pilpres Juli 2009 mendatang. Tapi yang terjadi, mereka belum bisa memutuskan. Yusuf Kalla sebagai ketua umum opini yang mengitarinya masih terbelah, antara kepantasan (berdasarkan hasil survey beberapa lembaga peneliti) mejadi Wapres lagi bersama tandemnya SBY dan kelayakan muncul sebagai Presiden (setidaknya demikian menurut logika politik tokoh-tokoh internal partai itu).

Maka, masyarakat dipertontonkan oleh berbagai atraksi " manuver" baik yang dilakukan JK (mengalang dukungan internal ke daerah-daerah seraya terus melakukan pertemuan dengan pimpinan partai lain) maupun yang dilakukan para tokoh-tokoh petinggi Golkar (melakkan hal sama, namun terkesan memasang jurus, mencari celah memainkan skenario di kepala mereka). Bagaimana akhirnya? Kita lihat saja pada Rapimnas Khusus mereka nanti. kabarnya, di forum itulah ditentukan. Tapi sebelum ke sana, kita masyarakat akan melihat akrobatik menarik dari para tokoh-tooh partai ini.

PDIP

Yang dialami PDIP tak jauh berbeda, walau sejak awal sudah mencanangkan sang Ketua Umum Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden. Beberapa bulan lalu, sebelum menggelar Rakernas di Solo Jawa Tengah Megawati mengatakan hanya akan menggandeng figur yang bersedia menjadi calon wakil presiden. Maka muncul nama-nama nominator; Sultan Hamengkubuwono X (Wakil Wanhat Golkar), Hidayat Nurwahid (Ketua MPR RI), Surya Paloh (Ketua Wanhat Golkar), Prabowo Subianto (Ketua Wanhat Partai Gerindra) dan Sutiyoso (Mantan Gubernur DKI Jakarta).

Sayangnya, tak seperti yang dibayangkan Megawati, mereka bersikeras etap mencalonkan diri sebagai presiden. Apa yang terjadi? Megawati dan seluruh jajaran petinggi partainya, lebih-lebih Ketua Deperpu PDIP Taufik Kiemas, tetap berharap dan menunggu kepastian Sultan Hamenkubuwono, yan justru paling berkeras ingin tetap mencalonkan diri sebagai presiden. Tidak konsisten, tapi itulah realitasnya. Bagaimana ujungnya..? Kita lihat saja.

DEMOKRAT

Partai ini sangat PeDe ( Percaya Diri) bahwa ikon mereka Susilo Bambang Yudhoyono masih sangat laku dijual dan pantas menjadi yang terbaik lagi. Logika mereka (pengurus Partai Demokrat) lumayan masuk akal. Pada Pemilu 2004, dengan partai masih seumur orok, dengan segala persiapan yang serba tergesa-gesa mereka berhasil meraih suara yang signifikan dan capres mereka muncul sebagai pemenang Pilpres. Apalagi dengan persiapan matang selama lima tahun, dengan capaian prestasi sang presiden lumayan mendapat simpati. Tapi rasa percaya diri berlebihan itu dapat pula merusak skenario yang telah tersusun rapi.

Ada beberapa catatan yang (dalam kacamata publik) memberi perbedaan dengan saat mereka berkompetisi di lima tahun lalu. Pertama, beberapa tokoh pentolan yang dulu memberi andil besar atas prestasi lima tahun itu, telah angkat kaki. Sebagian mendirikan partai sendiri, sebaian lain memilih bergabung dengan partai lain. Penyebabnya kepergian mereka bisa ditebak, tapi yang terpenting dibahas adalah kepergian mereka tidak sendirian. Ada banyak pengikut yang mengiringi dan berpotensi menggerus capaian Partai Demokrat di Pemilu mendatang.

Kedua, dan ini tidak boleh disepelekan, yakni harmonisasi hubungan SBY dengan sejumlah tokoh purnawirawan yang kini terganggu oleh pernyataan "issu ABS". Padahal tak dipungkiri, faktor jaringan SBY-Purnawirawan itu sangat signifikan mendongkrak raihan suara partai ini. Dan ketiga, faktor JK (Yusuf Kalla). Bahwa munculnya JK mendampingi SBY lima tahun lalu, bukan dengan cek kosong. Bahkan di beberapa kesempatan JK beberapa kali "mengungkit" peran dan kontribusinya dalam memenangkan Pilpres 2004 itu. Dan kini, JK tengah menghadapi tekanan dari internal partainya untuk maju sebagai tokoh RI-1. Bisa dimengerti, kalau situasi ini terus dicermati SBY. Meminta JK kembali mendampinginya, tak semudah dulu. Karena kini, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Partai Golkar, JK tak bisa "berzigzag" sendiri, tapi harus mempertimbangkan kepentingan partainya. Bagaimana akhirnya? Kembali kita menunggu.

PKS

Sebagai partai baru, Partai Keadilan Sejatera boleh jadi paling memainkan peran sebagai mesin politik. Memiliki identitas jelas, dan segala keputusan digodok oleh forum musyawarah bernama "Dewan Syuro". Capaian dua kali ikut pemilu menunjukkan partai ini memiliki prospek bagus dan penuh harapan untuk membawa nasib bangsa ini lebih baik. Bahkan ada yang meramal, grafik kemajuannya akan terus bergerak naik. Benarkah ? Nanti dulu.

Meski berusaha ditutupi, masyarakat bisa mengendus adanya bibit perpecahan di internal partai berbasis Islam ini. Apalagi kalau bukan perbedaan ideologi dan orientasi berpartai. Satu faksi beraliran fragmatis, faksi lainnya tetap bersuaha mempertahankan roh ideologi awal pendirian partai. Masyarakat mulai melihat iklim "pergesekan" masing-masing faksi itu, terutama dalam hal menyongsong ajang Pilpres mendatang.

Hal lain, ada fenomena baru yang dimainkan partai ini, saat mengawali persiapan menyambut Pemilu 2009. Masyarakat dikejutkan leh berbagai manuver iklan patai ini yang kontroversial dan menuai banyak kecaman, selain juga keterkejutan. Mengubah warga dasar lambang partai dari putih menjadi kuning, menjadikan putri sulung mendiang Pak Harto; Siti hardiyanti Rukmana sebagai salah satu perempuan penuh inspirasi, dan mengundang Titik Prabowo dalam sebuah acara yang penuh sorot kamera, tak pelak memunculkan kesan miring bahwa partai ini mulai kehabisan lahan garapan dan tengah berusaha menarik simpati massa pendukung fanatik Pak Harto.

Bagaimana kita melihat semua ini? Sabar. Karena sampai menjelang Juli 2009 kita masyarakat masih akan terus dipertontonkan berbagai jurus akrobatik para politisi ini. Kita hanya berharap, kepentingan masyarakat tidak menjadi boneka mainan dari para tokoh ini. Lagi pula ada adagium dalam politik, Tidak ada yang tidak mungkin. Bisa jadi yang muncul bukan mereka, karena masih ada pemain potensial lain semacam Prabowo, Sultan HB X atau yaa.Hidayat Nurwahid. Siapa yang diuntungkan atas semua ini? Kita tunggu saja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar